Sejarah Kelurahan Tinalan
Sejarah Kelurahan Tinalan erat kaitannya dengan identitas Kota Kediri sebagai "Kota Tahu," di mana Tinalan dikenal sebagai pusat pembuatan tahu legendaris (terutama tahu kuning) yang sudah ada sejak lama dan diresmikan jadi "Kampung Tahu" pada tahun 2019, menunjukkan tradisi kuliner yang kuat di kelurahan ini.
Sejarah dan Latar Belakang:
- Pusat Tahu: Tinalan (bagian dari Kecamatan Pesantren) telah lama menjadi sentra produksi tahu di Kediri, dikenal dengan kualitas dan rasanya yang khas, menjadikannya bagian penting dari julukan Kota Kediri sebagai "Kota Tahu".
- Simbol Tahu Kuning: Tahu Tinalan yang berwarna kuning menjadi ikon penting, sering dikaitkan dengan sejarah kedatangan warga Tiongkok yang membawa tradisi pembuatan tahu, seperti yang dijelaskan dalam sejarah Tahu Takwa Kediri.
- Peresmian "Kampung Tahu": Untuk memperkuat identitas ini, Tinalan diresmikan sebagai "Kampung Tahu" pada 22 Agustus 2019 oleh Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, menandai upaya pelestarian dan pengembangan potensi daerah tersebut.
Secara Ringkas:
Sejarah Tinalan adalah narasi tentang adaptasi budaya, perdagangan, dan identitas lokal yang terwujud dalam produk kuliner tahu, yang kemudian diangkat menjadi bagian dari branding kota secara keseluruhan.
- Lokasi: Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
- Identitas Utama: Kampung Tahu, produk unggulan Tahu Kuning/TaAsal-usul Sumber Dadapan bermula dari kisah Mbok Rondho Dadapan, seorang perempuan yang membuka wilayah Alas Dadap hingga menjadi Dusun Dadapan. Di tempat itu, ia menemukan sebuah sumber air yang kini dikenal sebagai Sumber Dadapan. Cerita ini kemudian berkembang menjadi legenda yang berkaitan dengan kisah Andhe-Andhe Lumut dan Klenting Kuning sosok Dewi Sekartaji yang akhirnya bersatu kembali dengan suaminya, Panji Asmoro Bangun. Takwa.
- Pencapaian: Diresmikan sebagai Kampung Tahu tahun 2019.
Asal-usul Sumber Dadapan : bermula dari kisah Mbok Rondho Dadapan, seorang perempuan yang membuka wilayah Alas Dadap hingga menjadi Dusun Dadapan. Di tempat itu, ia menemukan sebuah sumber air yang kini dikenal sebagai Sumber Dadapan. Cerita ini kemudian berkembang menjadi legenda yang berkaitan dengan kisah Andhe-Andhe Lumut dan Klenting Kuning sosok Dewi Sekartaji yang akhirnya bersatu kembali dengan suaminya, Panji Asmoro Bangun.
Kisah Mbok Rondho Dadapan: Ini menjelaskan asal-usul toponimi Dusun Dadapan dan penemuan sumber air tersebut oleh tokoh pendiri.
Kisah Panji (Andhe-Andhe Lumut dan Klenting Kuning): Ini memberikan konteks legenda yang lebih luas, menempatkan Sumber Dadapan sebagai lokasi yang penting dalam siklus cerita Panji, di mana Dewi Sekartaji (Klenting Kuning) bersatu kembali dengan Panji Asmoro Bangun (Andhe-Andhe Lumut).
📜 Ringkasan Sejarah dan Legenda Sumber Dadapan
sejarah Sumber Dadapan dapat diringkas sebagai berikut:
Elemen SejarahDeskripsi KeterkaitanTokoh Pendiri Mbok Rondho Dadapan, seorang perempuan yang membuka kawasan hutan Alas Dadap.Asal NamaDari pohon Dadap yang menjadi lokasi pembukaan lahan, yang kemudian disebut Dusun Dadapan.PenemuanDi Dusun Dadapan, Mbok Rondho Dadapan menemukan mata air yang kini disebut Sumber Dadapan.Legenda UtamaSumber Dadapan menjadi bagian dari legenda yang mengisahkan penyatuan kembali Dewi Sekartaji (Klenting Kuning) dengan Panji Asmoro Bangun (Andhe-Andhe Lumut).
Keterkaitan dengan kisah Panji Asmoro Bangun (yang dipercaya berlatar belakang di Kerajaan Kediri) memperkuat makna historis dan budaya Sumber Dadapan, menjadikannya bukan hanya sumber air biasa, tetapi juga situs dalam warisan cerita rakyat Jawa.